“Mengajarkan anak menghitung itu baik, namun mengajarkan mereka apa yang berharga/utama adalah yang terbaik” (teaching kids to count is fine but teaching them what counts is best). Bob Talbert.
Kutipan tersebut terkait dengan dilema etika yang dialami seorang guru dalam proses pembelajaran, apakah mau mengutamakan teori/materi yang tuntas dalam bentuk pencapaian nilai yang tinggi ataukah lebih mengutamakan makna/penerapannya dalam kehidupan sehari-hari yang tentu membutuhkan waktu lebih lama yang mungkin akan mengakibatkan materi tidak tuntas.
Nilai-nilai atau prinsip-prinsip yang dianut dalam pengambilan keputusan akan sangat berdampak pada lingkungan. Ketika kita mengambil keputusan yang tepat yang berpihak pada murid dan dapat pertanggungjawabkan maka akan memberikan dampak positif untuk lingkungan sekolah yaitu terciptanya lingkungan yang aman dan nyaman tanpa perselisihan.
Sebagai pemimpin pembelajaran, saya harus mampu mengambil keputusan yang dapat menuntun tumbuh kembang anak sesuai dengan kodratnya agar mereka mendapatkan kebahagiaan melalui merdeka belajar. Pengambilan keputusan juga harus mengutamakan kebutuhan belajar dan pembentukan karakter murid melalui pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional.
Education is the art of making man ethical. Pendidikan adalah sebuah seni untuk membuat manusia menjadi berperilaku etis. ~Georg Wilhelm Friedrich Hegel~
Maksud dari kutipan tersebut terkait dengan pembelajaran pada modul 3.1 ini adalah pengambilan keputusan yang berupa dilema etika dapat dilakukan melalui 9 langkah pengambilan keputusan sebagai pedoman untuk berperilaku etis sehingga keputusan yang kita ambil didasarkan pada nilai-nilai kebajikan universal yaitu tanggung jawab dan berpihak kepada murid.
Bagaimana filosofi Ki Hajar Dewantara dengan Pratap Triloka memiliki kaitan dengan penerapan pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin?
Ing Ngarso Sung Tolodo : Filosofi ini menegaskan bahwa sebagai pemimpin pembelajaran, kita hendaknya dapat memberi teladan yang bijak dalam pengambilan keputusan.
Ing Madyo Mangunkarso : Filosofi ini menegaskan bahwa dalam pengambilan keputusan hendaknya kita mampu memberdayakan dan membangun kerukunan murid.
Tut Wuri Handayani : Filosofi ini menegaskan bahwa sebagai pemimpin dalam pengambilan keputusan maka keputusan yang kita ambil hendaknya mampu mendorong kolaborasi dan meningkatkan kinerja murid.
Bagaimana nilai-nilai yang tertanam dalam diri kita, berpengaruh kepada prinsip-prinsip yang kita ambil dalam pengambilan suatu keputusan?
Nilai-nilai kebajikan yang sangat mempengaruhi kebijakan kita dalam pengambilan keputusan adalah keadilan dan tanggung jawab. Adil bukan berarti membagi sama rata, tetapi menempatkan sesuatu sesuai dengan porsinya sedangkan tanggung jawab berarti mampu menanggung resiko dari keputusan yang telah dipilih. Nilai ini harus ditanamkan sejak dini dan dibudayakan dalam lingkungan sekolah agar kelak murid kita menjadi orang yang bijak dalam mengambil keputusan.
Bagaimana materi pengambilan keputusan berkaitan dengan kegiatan ‘coaching’ (bimbingan) yang diberikan pendamping atau fasilitator dalam perjalanan proses pembelajaran kita, terutama dalam pengujian pengambilan keputusan yang telah kita ambil? Apakah pengambilan keputusan tersebut telah efektif, masihkah ada pertanyaan-pertanyaan dalam diri kita atas pengambilan keputusan tersebut? Hal-hal ini tentunya bisa dibantu oleh sesi ‘coaching’ yang telah dibahas pada sebelumnya.
Salah satu tujuan kegiatan coaching yaitu menggali lebih dalam lagi potensi yang dimiliki oleh seorang guru. Melalui proses coaching akan terjadi pengambilan keputusan yang mengarah pada hal-hal positif yang artinya keputusan yang diambil berpihak pada murid. Melalui kegiatan coaching pengambilan keputusan akan lebih efektif karena keputusan yang diambil berasal dari potensi yang dimiliki seseorang sehingga keputusan tersebut dapat dipertanggungjawabkan yang akan mendorong terwujudnya well-being dalam ekosistem sekolah.
Bagaimana kemampuan guru dalam mengelola dan menyadari aspek sosial emosionalnya akan berpengaruh terhadap pengambilan suatu keputusan khususnya masalah dilema etika?
Guru sebagai pemimpin pembelajaran harus mampu mengelola dan menyadari aspek sosial emosional agar mampu bijak dalam mengambil dan menguji keputusan. Seorang guru yang memiliki kesadaran diri yang baik akan menunjukkan integritas dan tanggung jawab dalam memutuskan masalah yang berkaitan dengan dilema etika. Guru juga harus mampu memiliki kesadaran penuh ketika menghadapi suatu dilema etika. Dengan kesadaran penuh maka perhatian, rasa ingin tahu dan kebaikan akan mempengaruhi keputusan guru dalam menciptakan well-being ekosistem atau kesejahteraan psikologis.
Bagaimana pembahasan studi kasus yang fokus pada masalah moral atau etika kembali kepada nilai-nilai yang dianut seorang pendidik?
Nilai-nilai yang dianut oleh pendidik seperti keadilan, kemanusiaan, tanggung jawab, kejujuran dan lain-lain akan sangat mempengaruhi pendidik tersebut dalam mengambil suatu keputusan yang berupa dilema etika karena nilai ini akan menjadi dasar seorang pendidik dalam mempertimbangkan benturan nilai yang muncul dalam kasus dilema etika. Dengan nilai-nilai tersebut, pendidik menjadi tahu mana nilai yang harus dipertegas, dikuatkan atau mungkin dikalahkan.
Bagaimana pengambilan keputusan yang tepat, tentunya berdampak pada terciptanya lingkungan yang positif, kondusif, aman dan nyaman?
Lingkungan yang positif kondusif aman dan nyaman adalah lingkungan yang membangun persepsi bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda dan orang lain adalah mitra bukan saingan. Tugas pendidik adalah membantu anak-anak menemukan jati diri dan mengembangkan potensinya. Persepsi tersebut akan mendorong kentalnya kolaborasi antara murid guru maupun orang tua.
Lingkungan tersebut akan tercipta dari budaya positif. Budaya positif akan terbentuk dari kesepakatan dan sinergitas para pelaku di lingkungan dalam menyepakati tindakan positif. Dalam kesepakatan inilah dibutuhkan suatu keterampilan dalam pengambilan keputusan yang tepat berdasarkan nilai-nilai kebajikan.
Apakah tantangan-tantangan di lingkungan Anda untuk dapat menjalankan pengambilan keputusan terhadap kasus-kasus dilema etika ini? Adakah kaitannya dengan perubahan paradigma di lingkungan Anda?
Lingkungan yang positif kondusif aman dan nyaman adalah lingkungan yang membangun persepsi bahwa setiap orang memiliki potensi yang berbeda-beda dan orang lain adalah mitra bukan saingan. Tugas pendidik adalah membantu anak-anak menemukan jati diri dan mengembangkan potensinya. Persepsi tersebut akan mendorong kentalnya kolaborasi antara murid guru maupun orang tua.
Apakah pengaruh pengambilan keputusan yang kita ambil ini dengan pengajaran yang memerdekakan murid-murid kita? Bagaimana kita memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid kita yang berbeda-beda?
Agar dapat memutuskan pembelajaran yang tepat untuk potensi murid yang berbeda-beda, sebelumnya kita harus mengetahui kesiapan, minat dan profil belajar murid. Dengan memahami ketiganya kita akan mampu menyusun pembelajaran yang berpihak pada murid yaitu pembelajaran berdiferensiasi baik dari sisi konten, proses, maupun produk. Dengan mewujudkan pembelajaran yang demikian maka murid akan semakin merdeka dalam belajarnya.
Bagaimana seorang pemimpin pembelajaran dalam mengambil keputusan dapat mempengaruhi kehidupan atau masa depan murid-muridnya?
Seorang pemimpin pembelajaran sudah seharusnya mengambil keputusan yang bijaksana. Pengambilan keputusan yang bijaksana memperhatikan nilai-nilai kebajikan universal, tanggung jawab dan keputusan tersebut haruslah berpihak pada murid agar kehidupan masa depan murid dapat terpenuhi dengan baik.
Jadi sebagai pemimpin pembelajaran kita harus lebih hati-hati dalam pengambilan keputusan karena keputusan yang kita ambil akan terkait secara terus-menerus dan berdampak pada kehidupan murid kita ke depannya.
Apakah kesimpulan akhir yang dapat Anda tarik dari pembelajaran modul materi ini dan keterkaitannya dengan modul-modul sebelumnya?
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah dalam pengambilan keputusan haruslah menerapkan tiga unsur yaitu nilai-nilai kebajikan universal, bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin setidaknya harus berpedoman pada filosofi KHD dengan Pratap Trilokanya, berlandaskan nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki, berpedoman pada pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional serta memiliki keterampilan coaching yang baik dalam menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan. Dengan demikian akan muncul keputusan yang mampu menciptakan budaya positif demi terwujudnya visi sekolah yang berpihak pada murid.
Sejauh mana pemahaman Anda tentang konsep-konsep yang telah Anda pelajari di modul ini, yaitu: dilema etika dan bujukan moral, 4 paradigma pengambilan keputusan, 3 prinsip pengambilan keputusan, dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan. Adakah hal-hal yang menurut Anda di luar dugaan?
Sebuah kasus dikatakan dilema etika apabila pilihan dari kasus tersebut adalah benar lawan benar. Sedangkan dikatakan bujukan moral apabila pilihannya benar lawan salah. Penerapan 4 paradigma 3 prinsip dan 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan dapat digunakan ketika kita menghadapi permasalahan dilema etika.
Hal di luar dugaan yang saya dapatkan pada modul ini adalah ketika kita menghadapi kasus dilema etika maka kita perlu memunculkan opsi trilema agar muncul solusi kreatif yang bisa diterima oleh semua pihak. Selain itu 9 langkah pengambilan dan pengujian keputusan hanya dilakukan ketika kita menghadapi kasus dilema etika. Pada kasus bujukan moral, tidak perlu dilakukan karena benar lawan salah, sudah pasti kita harus memilih kebenaran.
Sebelum mempelajari modul ini, pernahkah Anda menerapkan pengambilan keputusan sebagai pemimpin dalam situasi moral dilema? Bilamana pernah, apa bedanya dengan apa yang Anda pelajari di modul ini?
Kesimpulan yang dapat ditarik adalah dalam pengambilan keputusan haruslah menerapkan tiga unsur yaitu nilai-nilai kebajikan universal, bertanggung jawab terhadap segala konsekuensi dan berpihak pada murid. Pengambilan keputusan sebagai seorang pemimpin setidaknya harus berpedoman pada filosofi KHD dengan Pratap Trilokanya, berlandaskan nilai dan peran guru penggerak yang dimiliki, berpedoman pada pembelajaran berdiferensiasi dan sosial emosional serta memiliki keterampilan coaching yang baik dalam menjalankan langkah-langkah pengambilan keputusan. Dengan demikian akan muncul keputusan yang mampu menciptakan budaya positif demi terwujudnya visi sekolah yang berpihak pada murid.
Bagaimana dampak mempelajari konsep ini buat Anda, perubahan apa yang terjadi pada cara Anda dalam mengambil keputusan sebelum dan sesudah mengikuti pembelajaran modul ini?
Sebelum : Sebelum mempelajari modul ini, saya sering merasa bimbang saat mengambil keputusan terutama yang terkait dengan kasus dilema etika. Saya khawatir keputusan yang saya ambil itu tidak tepat sehingga nantinya akan menimbulkan permasalahan baru lagi.
Sesudah : Setelah mempelajari modul ini saya menjadi lebih percaya diri dalam mengambil keputusan terkait kasus dilema etika karena telah melakukan 9 langkah pengujian dan pengambilan keputusan yang akan meminimalisir dampak negatif dari keputusan yang telah diambil.
Seberapa penting mempelajari topik modul ini bagi Anda sebagai seorang individu dan Anda sebagai seorang pemimpin?
Mempelajari topik-topik yang dibahas dalam modul ini sangatlah penting bagi saya baik sebagai individu maupun sebagai pemimpin. Sebagai seorang individu, hal ini telah meningkatkan dan memperkaya keterampilan pengambilan keputusan saya dalam kehidupan sehari-hari. Sekarang saya menghadapi dilema pribadi dengan perspektif yang lebih terstruktur dan penuh pertimbangan, memastikan bahwa tindakan saya sejalan dengan nilai-nilai saya. Sebagai seorang pemimpin, pengetahuan ini sangat berharga. Dilema dan pengambilan keputusan merupakan hal yang hakiki dalam peran kepemimpinan, dan memahami konsep-konsep ini secara mendalam berdampak langsung pada efektivitas saya. Hal ini memungkinkan saya untuk mengendalikan situasi kompleks dengan keyakinan dan integritas yang lebih besar. Selain itu, hal ini memberdayakan saya untuk menciptakan lingkungan yang kondusif, menumbuhkan kepercayaan dan mendorong perilaku positif dalam tim atau organisasi saya. Intinya, modul ini tidak hanya meningkatkan kepribadian saya namun juga memperkuat kemampuan kepemimpinan saya, memungkinkan saya membuat keputusan yang lebih tepat dan bermoral baik dalam bidang profesional maupun pribadi.











